Sabtu, 01 Januari 2011

Resensi Buku, Batikku; Pengabdian Cinta tak berkata

 

Batikku._Pengabdian_Cinta_tak_Berkata 

Life is a mistery.  Begitulah kata pepatah mengatakan.  Siapa sangka kepindahanku ke tanah Papua memperkenalkan aku pada Batik Papua secara tidak sengaja. Jujur, sebelumnya aku kurang tertarik belajar tentang batik hingga akhir-akhir ini batik seperti “booming” dan menjadi “must have outfit”.

Dari sekedar berjualan batik Papua, ketertarikanku akan batik nusantara mulai tumbuh.  Ingin rasanya tahu lebih banyak mengenai apa itu batik, proses pembuatannya, sejarah dan ragam batik nusantara.  Keingintahuanku inilah yang mendorongku untuk membeli buku yang berhubungan dengan batik, salah satunya adalah buku ini.  Buku yang di karang oleh Ibu Hj. Ani Yudhoyono, istri Presiden RI kita sekarang yaitu Bapak H. Bambang Yudhoyono.

Resensi Buku, Batikku Pengabdian Cinta Tak Berkata

Ditulis oleh Ibu Hj. Ani Yudhoyono

Pada awal buku, Ibu Ani ingin menyampaikan bahwa batik merupakan karya cipta urun tangan.  Tangan orang-orang yang ikut turun andil dalam menciptakann selembar kain polos hingga menjadi batik nan indah. Batik juga merupakan karya gotong royong dari banyak orang secara turun temurun. 

Peran perempuan mempunyai posisi yang strategis dalam tradisi membatik.  Karena dari tangan-tangan para perempuan inilah batik di ciptakan.  Hal ini maklum karena kebanyakan pengrajin batik adalah para Ibu Rumah Tangga yang menjadikan batik bagian dari keseharian hidupnya serta mata pencaharian mereka.

Dan bagaimana ragam batik yang tersebar di Nusantara ?, di jelaskan secara mendetail dalam buku ini.  Mulai dari ragam batik Betawi, Garut, Tasikmalaya, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Purworejo, Jogyakarta, Surakarta, Sragen, Pacitan, Lasem, Tuban dan Madura. Kebudayaan, nilai-nilai sosial dan kemasyarakan dari masing-masing kota tersebut memberikan sentuhan nilai dan warna berbeda pada masing-masing batik dari kota tersebut.  Sehingga batik dari kota satu dengan kota lainnya mempunyai keunikan sendiri-sendiri.

Perkembangan batik tidak bisa di lepaskan dari tangan orang-orang yang ahli dalam batik.  Siapa saja mereka?  Sebut saja Iwan Tirta, Bapak Widodo “Indigo”; pengembang batik alami warna biru “indigo” serta Ibu Larasati Suliantoro Sulaiman; Pendiri sekaligus kurator Museum Batik Rakyat “Cipto Wening” di Imogiri, Bantul, dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya. Peran apa yang mereka mainkan dalam memperkaya batik, di jabarkan juga dalam buku ini.

Seperti apa proses membatik itu? Diungkapkan secara lengkap di buku ini tahap demi tahap.  Mulai dari awal sampai akhir.  Alat-alat yang digunakan untuk membatik seperti malam, canting, lilin, cap batik dsb juga di jabarkan dengan cukup jelas dilengkapi dengan foto-foto yang menarik dari tim fotografer.

Kecintaan ibu Ani pada batik berawal dari kesehariannya melihat perempuan membatik.  Batik juga menjadi bagian dari sejarah hidupnya.  Dari ketika Ibu Ani masih kecil hingga saat ini.  Batik sudah menjadi pakaian kebanggaannya.  Peristiwa-peristiwa bersejarah dalam kehidupan Ibu Ani diabadikan dalam lembaran foto-foto.  Kita sebagai pembaca seolah di ajak untuk menyimak perjalanan hidup beliau melalui foto-foto ini.  Di dalamnya terselip cerita bagaimana batik seolah menjadi saksi mati bagi peristiwa penting tersebut.  Beberapa di antara koleksi batik Ibu Ani di tampilkan di sini.  Batik-batik yang mempunyai nilai sejarah.  Batik yang hanya di kenakan pada acara-acara tertentu dan orang-orang tertentu.  Hal ini lumrah mengingat batik mengandung nilai tata krama serta kesantunan jadi tidak sembarang orang bisa memakainya.

Pada akhir buku ini, di tampilkan pula koleksi Ibu Ani yang terpilih pada ajang World Expo 2010.  Koleksi yang di tampilkan antara lain Batik Priangan, Pesisiran, Pedalaman, Batik Madura, Bunga Rampai.  Koleksi batik ini dilayout menyerupai katalog dilengkapi dengan nama batik, asal dan ukuran batik.  Diantara kokeksi batik yang terpilih, ada satu-satunya batik dengan motif Papua yaitu batik yang di beri judul “Ragam Hias Papua”.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk di koleksi karena termasuk lengkap dalam mewakili pesan yang ingin di sampaikan.  Pesan terserbut adalah bahwa batik sebagai warisan budaya bangsa perlu di lestarikan dengan cara kreatif dalam menggunakan karya batik serta ikut mendorong kreatifitas kaum muda untuk terus berkarya dalam menciptakan batik dengan desain yang selalu fresh.

 

Ibu Chandra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...