Showing posts with label Noken Papua. Show all posts
Showing posts with label Noken Papua. Show all posts

Friday, March 27, 2020

Pasar Mama Mama Papua sebagai Tujuan Destinasi Ekowisata Papua

Amole!

Pemandangan Mimika dari Atas Pesawat (Dokumen Pribadi)
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya untuk tinggal di sebuah distrik bernama Mimika Baru di Kabupaten Mimika, Papua selama 10 tahun dari tahun 2007 hingga 2017. Sebagai pendatang, ada keinginan untuk berbagi cerita dengan teman-teman dan keluarga ditempat yang terasa asing bagi saya.

Maka sejak tahun 2008 saya mulai rajin menulis di blog yang diberi nama Timikaunique. Mengapa saya beri nama demikian karena yang terlintas dikepala saya kala itu adalah nama kota Timika, maka supaya terdengar enak saya tambahkan unique dibelakangnya. Awalnya saya suka berbagi cerita tentang hal-hal unik dari kota Timika, saya ingat kala itu saya menulis tentang Batik Papua. Tidak disangka-sangka Timikaunique menjadi pekerjaaan sampingan saya yaitu dengan mempromosikan budaya dan kerajinan khas Papua melalui Media Sosial / Toko Online Daring hingga sekarang.

Timikanique, sebuah Toko Online Oleh-Oleh Khas Papua yang mempromosikan kerajinan asli Papua (Dokumen Pribadi)
Tinggal di dekat pusat kota Mimika, Papua tidak serta merta menjauhkan saya dari keindahan alam Papua. Di kawasan Kuala Kencana, Papua, masih di dalam kawasan hutan lindung di bawah pengawasan PT. Freeport Indonesia, di sanalah saya bisa mengagumi hutan papua yang masih terjaga. Untuk masuk ke kawasan hutan lindung tidak sembarangan orang bisa masuk, juga ada larangan untuk menembak satwa liar yang ada di dalam hutan tersebut.

Kawasan Hutan Lindung di Kuala Kencana (Dokumen Pribadi)
Udara yang segar dan bersih, pohon-pohon yang menjulang hingga puluhan meteran menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. Sayup-sayup terdengar suara burung dari kejauhan, kadang-kadang burung itu melintas di atas awan, mengepakkan sayapnya yang selebar tangan orang dewasa.

Menikmati pohon-pohon menjulang tinggi, udara yang segar, suara burung bernyanyian merupakan  suatu nikmat tersendiri (Dokumen Pribadi) 
Saat kami berhenti sejenak untuk sholat di Masjid Baiturahhim Kuala Kencana, kami memergoki kumbang tanduk berjalan-jalan di lantai masjid. Kumbang Tanduk ini sering jadi objek perhatian anak-anak kami yang masih kecil kala itu karena bentuknya yang aneh tapi lucu. Itulah kali pertama anak-anak saya berkenalan dengan serangga penghuni hutan. Dari sana pulalah keingintahuan anak saya tentang pengetahuan alam barangkali bermula.

Kawasan Hutan Lindung yang bebas sampah (Dokpri)
Dikawasan hutan lindung ini juga mengalir sungai yang airnya sejernih kristal. Dari situlah kekaguman saya muncul. Dalam hati saya selalu berpikir jika hutan papua dimana saja tidak hanya di kawasan PT. Freeport Indonesia jika dikelola dengan baik, kebersihan terjaga, tidak ada sampah berserakan tentu bisa menjadi tujuan wisata hijau / ekowisata yang menarik bagi siapa saja yang berkunjung.

Anak-anak saya antusias bermain disungai yang airnya sejernih kristal (Dokumen Pribadi)
Definisi Ekowisata dan apa bedanya dengan Pariwisata Konvensional

Ekowisata / ekoturisme secara sederhana diartikan sebagai wisata ekologi atau wisata Lingkungan. Meskipun begitu, tidak jarang, banyak dari kita yang kurang paham atau mengerti tentang Ekowisata.

Ekowisata atau ekoturisme adalah suatu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan

Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif yang dirasakan pada kegiatan konvensional. Dampak negatif ini dikemukaan dan dibuktikan oleh pakar lingkungan, tetapi juga para budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu. Dampak terdiri dari kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal yang tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat lokal dan persaingan bisnis yang mulai menentang lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat lokal.

Pada mulanya ekowisata dilakukan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan mulai dikurangi (sumber: Wikipedia)

Untuk menjadi tujuan wisata hijau (Ekowisata) ada berbagai sumber yang perlu perhatian besar  yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia di Papua.

Potensi Hutan Papua 

Sumber daya alam dalam hal ini Hutan Papua memiliki potensi yang luar biasa besar. Hutan Papua menyediakan pasokan oksigen untuk paru-paru dunia. Hutan Papua berada diperingkat tiga didunia dilihat dari luas kawasannya. Hutan juga merupakan rumah bagi 20.000 spesies tanaman, 125 spesies mamalia, 223 reptil, dan 602 spesies burung yang hidup di provinsi Papua Barat dan Papua. 

Orang Papua asli juga sangat bergantung pada hutan sebagai sumber makanan dan mata pencaharian. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk melindungi kelestarian Hutan demi kesejahteraan masyarakat Papua juga sebagai wilayah konservasi dunia (sumber Artikel Econusa  tanggal 14 Februari 2020 yang berjudul "Benteng Terakhir yang tidak bebas dari ancaman").

Uniknya Pasar Tradisional di Mimika, Papua

Jika ingin melihat kekayaan alam papua pergilah ke pasar tradisional, disanalah komoditas hutan dan laut sering diperdagangkan. Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, pasar merupakan tempat yang cukup sering saya kunjungi. Pasar Gorong-gorong, Pasar Lama, Pasar Sentral Timika adalah nama-nama pasar yang terkenal di Mimika Papua. Ketiga pasar ini menjadi langganan saya karena lokasinya berdekatan dengan rumah saya di Sempan, Mimika.

Salah satu umbi-umbian yang banyak dijual dipasar adalah petatas atau ubi jalar. Dijajakan dengan cara ditumpuk, satu tumpuk biasanya dijual dengan harga Rp. 10.000,00. Selain petatas, ada juga daun pakis. Daun pakis ini juga umum di sayur menjadi pendamping lauk.

Aneka Jenis Hasil Laut diijual dengan cara sederhana yaitu dengan menggelar alas plastik dipinggir jalan. Foto diambil di Pasar Gorong-gorong, Mimika, Papua (Dokpri)

Mama Papua berjualan petatas di Pasar Gorong-gorong, Timika, Papua (Dokpri)
Lalu ada lagi buah Matoa yang baunya mirip durian namun teksturnya mirip dengan kelengkeng. Buah Matoa merupakan buah yang berasal dari tumbuhan berakar tunggang yang berbentuk pohon. Tinggi pohonnya sekitar 20-40 meter dan diameter maksimum mencapai 100 centimeter. Pohon ini berbunga sekali dalam setahun yaitu Juli hingga oktober. Pohon ini bisa tumbuh baik di daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal.  Cuaca yang tepat untuk pohon Matoa adalah cuaca dengan curah hujan tinggi dan Papua mempunyai curah hujan yang tinggi.  Pohon Matoa memiliki banyak manfaat sebagai antioksidan, meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan kulit, meningkatkan regenerasi sel-sel mati (sumber: www.hutanpapua.id)

Buah Matoa (sumber gambar: IG hutanpapua.id)
Karaka, Hasil Hutan Mangrove yang Kaya Gizi

Dipasar banyak dijual karaka atau disebut juga kepiting bakau. Karaka ini hidup di kawasan hutan bakau / mangrove dekat pelabuhan Pomako. Hutan Bakau merupakan hutan yang tumbuh di air payau (campuran air laut dan air tawar), dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.  Luas hutan Mangrove di Papua mencakup hampir 1/3 luas hutan Mangrove Indonesia.  Mangrove atau Mangi-Mangi menyediakan ekosistem bagi ikan, udang, kepiting, kerang, jika pohon bakau atau manggi-manggi banyak ditebang, maka kepiting dan kawan-kawannya juga tidak bisa hidup.

Pelabuhan Pomako dengan pemandangan Hutan Mangrove Pulau Karaka dari kejauhan, Mimika, Papua (Dokpri)

Saat ini Kabupaten Mimika dan Asmat mempunyai wilayah Mangrove paling luas se Papua yaitu hampir 1/3 dari luas total Hutan Mangrove.

Selain untuk konsumsi sendiri, Karaka ini sebagian juga dikirim ke luar Papua dengan menggunakan pesawat. Sehingga bisa dikatakan karaka adalah salah satu komoditas yang turut menggerakkan ekonomi di Mimika, Papua. Karaka sangat enak, dagingnya tebal sehingga menjadi incaran restoran-restoran untuk diolah menjadi makanan yang menggoyang lidah. Daging karaka mengandung lemak dalam jumlah yang rendah (1 gram / 100 gram), asam lemak jenuh rendah sekitar (0.1 gram / 100 gram) serta kaya akan Omega 3.

Karaka atau kepiting bakau dibungkus menggunakan daun bakau (Sumber gambar: www.backupbensehat.blogspot.com)

Karaka dijual per tumpuk bukan ditimbang (sumber Gambar: www.backupbensehat.blogspot.com)

Noken, Tas Anyaman Kulit Kayu Unik yang Hanya Ada di Papua

Kekhasan pasar-pasar di Papua yang dijamin tidak ditemui di daerah lain adalah pemandangan mama-mama Papua membuat noken dan menjualnya di Pasar! Noken adalah  produk kerajinan asli papua berupa tas anyaman yang bahan dasarnya dari serat kulit kayu dan pewarna alami. Pewarna alami ini dibuat dari akar-akar tanaman dan buah-buahan hutan.

Noken sangat erat kaitannya dengan hutan karena bahan-bahan dasar pembuat Noken diambil dari sana. Papua memiliki lebih dari 250 suku dan setiap suku mempunyai versi noken masing-masing. Noken tidak saja dibuat oleh mama Papua , namun juga para lelakinya. Bahan pembuatan noken pun tidak hanya kulit kayu namun juga rotan, rumput rawa dsb. Karena keunggulan dan keunikan Noken tersebut Noken masuk dalam daftar United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai salah satu "Warisan Budaya Tak Benda" atau intangible heritage dan setiap tanggal 4 Desember diperingati sebagai "Hari Noken Sedunia".

Noken yang dibuat dari serat kulit kayu ( Dokpri)

Penjual Noken di Pasar Lama Mimika, Papua (Dokpri)
Noken juga terbuat dari benang sintetis karena keterbatasan bahan dan kreatifitas Mama Papua ( Dokpri)
Sembari berjualan Mama Mama Papua ini memanfaatkan waktu luang dengan merajut Noken (Dokpri)
Noken merupakan simbol kedewasaan perempuan Papua. Seseorang dikatakan siap menikah jika sudah bisa membuat Noken (Dokpri)

Berburu Noken di pasar Sentral Mimika (Dokpri)

Noken juga dibuat dari tanaman Anggrek hutan. Difoto ini terjadi transaksi antara Pace dan Mama Papua. Pace membawa tanaman Anggrek Hutan untuk di jual ke Mama Papua sebagai bahan pembuat Noken (dokpri)

Sagu Papua, Enak dan Bergizi

Potensi hutan lain yang juga banyak dijual dipasar adalah sagu papua (Metroxylon Sp). Dipasar, sagu ini dijual dalam kondisi basah untuk diolah menjadi makanan tradisional khas papua seperti Papeda atau sagu lempeng.  Sagu adalah tanaman multi-fungsi karena dari daun hingga akarnya bisa dimanfaatkan. Sagu juga sangat penting peranannya dalam mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim karena sifat pohon ini yang menyerap banyak air (hidrologis) dan mencegah banjir. Pohon Sagu ini menyukai daerah rawa-rawa , aliran sungai dan tanah subur lainnya, dilingkungan dataran rendah sampai pada ketinggian 700 m dpl.

Sagu dijual dalam kondisi masih basah dipasar Sentral, Mimika, Papua (Sumber gambar: www.timikaexpress.com)
Olahan sagu tradisional yaitu Sagu Lempeng, dimakan dengan cara dicelup ke dalam teh / kopi hangat lebih nikmat (sumber gambar: https://merahputih.com/post/read/sagu-lempeng-rotinya-masyarakat-papua-yang-tak-tergantikan)
Sagu kering produksi PT. ANJAP (Sorong , Papua Barat) sudah di export ke luar Papua. Sagu kering ini bisa diolah menjadi makanan modern seperti Bakso, Brownies, Kue Kering Sagu dsb (Sumber gambar: Instagram Bueno Nasio)
Pada wilayah yang sesuai pohon sagu dapat membentuk kebun / hutan sagu yang luas. Hingga saat ini Papua merupakan kawasan yang menyimpan cadangan hutan alam terbesar yang masih tersisa di Indonesia. Total luas hutan nya yang mencapai 40.803.132 hektar berkontribusi terhadap 32 persen total luas hutan di Indonesia. Papua mempunyai luas lahan sagu 771.716 hektar atau sekitar 85 persen dari luas sagu nasional. Dilihat dari kandungan gizinya, sagu mengandung karbohidrat lebih tinggi dari beras juga bebas gluten. Sagu merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang paling produktif diantara tanaman-tanaman lain seperti beras, ubi, singkong dsb. Pohon sagu rata-rata menghasilkan 250 kilogram pati (tepung kering) per batang per tahun. Jika dalam satu hektar dapat ditanam 100 batang sagu, maka akan menghasilkan 250 ton / hektar / tahun. Bandingkan dengan singkong dan kentang misalnya yang menghasilkan 15 ton pati kering / hektar / tahun.

Kandungan Gizi Sagu kaya akan Karbohidrat dan Bebas Gluten (Sumber Gambar: Econusa)
Mengenal Rok Tauri / Rok Rumbai khas Papua, Baju Adat Khas Papua yang Terbuat dari Daun Sagu

Pohon Sagu mempunyai arti penting bagi masyarakat papua asli karena selain untuk mencukupi kebutuhan pangan, papan juga memenuhi kebutuhan sandang. Suku Asmat menjuluki Pohon Sagu sebagai pohon nasi akar. Untuk melindungi tubuh, orang Asmat membuat rok dan cawat dari pucuk sagu. Namanya Rok Tauri / Awer. Pucuk sagu itu daun muda yang masih kuncup. Pucuk ini bisa dijadikan Tauri karena tipis dan mudah diolah. Beda dengan daun sagu tua yang keras. Sulitnya, pucuk daun sagu selalu berada di puncak pohon daun sagu yang sangat tinggi. Orang Asmat harus memanjat pohon sagu sampai puncak.  Padahal pohon sagu itu berduri. Jika tidak hati-hati, duri sagu bisa melukai kulit mereka.

Rok Rumbai Papua buatan Suku Asmat (Dokpri)
Selain suku Asmat, suku Kamoro yang tinggal di pesisir pantai dekat pelabuhan Pomako juga membuat Rok Tauri / Awer. Jika beruntung, rok Rumbai Papua ini juga dijual di pasar Gorong-gorong Mimika dengan harga yang cukup terjangkau.

Rok Rumbai mempunyai potensi Ekonomi yang besar karena unik dan tidak ditemui di daerah lain. Saat ini hanya kabupaten Mimika-Papua saja yang membuat Rok Rumbai Cokelat seperti pada gambar (Dokpri)
Masih banyak komoditas hutan lain yang juga menarik dan diperjual belikan di pasar seperti sarang semut dan buah Merah. Buah merah dan Sarang semut merupakan herba Papua yang dibuat dari tanaman yang tumbuh di hutan Papua.  Silahkan baca tulisan saya yang berjudul Herba Ajaib dari Papua, Sarang Semut yang Ampung Mengatasi Kanker dan Tumor dalam 3 bulan! dan ini Dia Rahasia Stamina Orang Papua yang bisa Anda Tiru dan Praktekkan!apua.html.

Banyak sekali potensi Alam Papua yang bisa kita gali dan kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Papua. Apa yang saya ceritakan masih terbatas pada hutan Papua, belum lagi cakupan potensi kelautan. Mungkin tulisan ini tidak akan cukup untuk membahasnya satu persatu.

Pasar Tradisional Sebagai Tujuan Ekowisata, kenapa tidak?

Dari kisah perjalanan saya, saya berpendapat pasar tradisional bisa jadi tujuan Ekowisata Papua. Ketika kita berkunjung ke suatu obyek wisata bisanya orang mencari buah tangan dan pasar bisa jadi alternatif karena disana kita bisa bertemu dengan pengrajin langsung, melihat proses pembuatannya secara langsung sehingga ada unsur pendidikan juga.  Berbeda dengan ketika kita membeli souvenir melalui toko souvenir / oleh-oleh.

Saya terinspirasi dengan tulisan Econusa di Media Online Kumparan berjudul "Pasar Mama-Mama Papua, Terobosan Ekonomi Kerakyatan" terbit pada tanggal 22 Desember 2019. Dalam artikel tersebut pasar Mama-Mama Papua menjadi satu-satunya pasar tradisional yang dikhususkan bagi perempuan asli Papua.

Pasar yang dibangun dengan konsep modern, 4 lantai ini terletak di Jalan Percetakan, Jayapura. Pasar Mama Papua dibangun sebagai dukungan pemerintah untuk pemberdayaan perempuan Papua, khususnya bidang ekonomi kerakyatan. Lantai 1 ditempati oleh pedagang buah, sayur hingga ikan dan daging. Lantai 2 ditempati oleh pedagang yang menjual kerajinan tangan Papua seperti Noken atau cindermata lainnya.

Sedangkan lantai 3, dikhususkan untuk penjualan makanan khas Papua, termasuk Rumah Anak Harapan yang diperuntukkan untuk anak-anak pedagang. Dengan adanya ruangan yang diperuntukkan untuk bagi anak-anak para pedagang inilah yang membedakan Pasar Mama-Mama Papua dengan pasar lainnya yang ada selama ini.

Menurut saya ini terobosan yang perlu di tiru ditempat lain terutama di Kabupaten Mimika dimana menurut saya kondisi pasar tradisonal disini sebetulnya menyimpan potensi yang luar biasa namun tidak ada tempat khusus untuk memamerkan potensi alam dan budaya Papua dalam satu tempat yang layak. Saya sering menemukan pedagang dipasar menjual dagangan di lantai, kadang hanya dipinggir jalan, terkena hujan , panas ataupun debu. Belum lagi bau sampah karena kurang tepatnya pengelolaan limbah pasar.

Tempat Mama-Mama Papua berjualan Noken masih ala kadarnya dan kurang terkonsep dengan baik. Semoga tulisan saya ini bisa menjadi masukan untuk Pemda Mimika kedepannya.untuk membangun Pasar Mama Papua seperti di Jayapura.

Ancaman terhadap Hutan Papua

Hasil penelitian Yayasan Econusia melalui studi pustaka (desktop study) bahwa hutan di Tanah Papua tak bebas dari ancaman deforestasi pada 2001 hingga 2018.  Luas tutupan hutan di diPapua mencapai 41,3 juta hektar hingga 2018. Dari luasan tersebut , hutan lahan kering primer mendominasi dengan luasan 18,7 juta hektar (45,26%) disusul hutan rawa primer seluas 6,07 juta hektar (14,68%) dan hutan kering sekunder seluas 5,8 juta hektar (14,18%).
Luasan Hutan Primer di Provinsi Papua Barat 2012 - 2017. Pada grafik batang menunjukkan angka yang terus menurun. (sumber: Instagram Econusa_id)

Luasan Hutan Primer di Provinsi Papua 2012 - 2017 (Sumber: Instagram Econusa_id)

Dalam rentang kurang dari 20 tahun, laju deforestasi (penggundulan hutan) rata-rata sebesar 51.527,71 hektar per tahun. Deforestasi tahunan menanjak naik sejak 2001 dari 2,4 persen menjadi 6,5 persen pada tahun 2015, kemudian menurun sampai 2018. Berdasarkan penelitian Yayasan Econusa penyebab deforestasi hutan antara lain:
  1. Ancaman Wilayah dataran rencah dimanfaatkan industri berbasis lahan yang luas. Wilayah dataran rendah diselatan tanah papua menjadi target pengembangan perkebunan sawit. Di selatan adalah wilayah lempung jika ditanam sawit tidak bisa kembali menjadi hutan.
  2. Penyalahgunaan perizinan aktivitas illegal seperti pembalakan liar serta penambangan tanpa izin
Selain kerusakan hutan, laut Papua juga menghadapati tantangan antara lain banyaknya sampah dilautan atau Marine Debris. Marine Debris dikenal sebagai sampah laut atau limbah buatan manusia yang disengaja atau tidak sengaja dilepaskan di danau, laut, taupun perairan lainnya.  Bahkan sampah plastik ini bisa menjangkau hingga ke dasar samudra.

Jika dibiarkan terus tentu ini akan berpengaruh pada ekowisata ke depannya. Melihat fakta-fakta menyedihkan dilapangan ini mendorong lahirnya Yayasan Econusa.

Yuk mengenal Econusa Foundation (Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan).

Perkenalan saya dengan Yayasan Econusa dimulai di Instagram ketika saya sedang mencari informasi lebih lanjut tentang suatu topik. Banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat setelah membaca postingan di Instagram Econusa_id dan di situsnya www.econusa.id.  Yayasan Econusa yang berdiri tahun 21 Juli 2017 telah melaksanakan berbagai macam kegiatan antara lain aksi bersih laut dan membuat acara yang bernama Mace Papua yang merupakan singkatan dari Mari Cerita Papua. Di acara ini Yayasan Econusa ingin mengenalkan kepada masyarakat umum budaya Papua yang unik seperti Noken khas Papua.

Melalui sosial media secara aktif Yayasan Econusa melakukan kampanye pentingnya menjaga kelestarian hutan serta laut. Di tingkat pemerintah, Yayasan ini terus menggandeng pemerintah Daerah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang memihak pada pelestarian hutan, laut, masyarakat adat Papua.

Semangat Econusa menginspirasi banyak orang termasuk saya. Sebagai pebisnis online, saya juga terus mengedukasi konsumen saya untuk lebih mengenal budaya Papua dan pentingnya menjaga hutan, laut demi masa depan masyarakat Papua.

Silahkan tonton vidio dibawah ini untuk mengenal Visi dan Misi Econusa!


Kerinduan Saya Untuk Kembali ke Papua

Sejak meninggalkan Papua dua tahun lalu, saya sering rindu akan suasana kampung Timika, Papua.  Jika ditanya kembali tempat mana yang ingin saya kunjungi saya ingin kembali ke kota Mimika lagi. Dua hal yang ingin saya lakukan adalah melihat proses pembuatan rok rumbai dan Noken karena kesibukan saya sebagai Ibu Rumah Tangga dan mempunyai bisnis Online kecil-kecilan tidak memberi saya kesempatan untuk melakukan dua hal tersebut. Mungkin lagu yang berjudul "Tatinggal di Papua" ini bisa mewakili kerinduan saya pada Papua, yang sudah saya anggap seperti tanah kelahiran saya.


Tulisan ini merupakan bentuk partisipasi saya dalam Lomba Wonderful Papua Competition yang diselenggarakan atas kerjasama oleh Blogger Perempuan dan Yayasan Econusa. Semoga menginspirasi.


Salam,
Ibu Chandra Malini

Referensi:

1. Artikel  Econusa berjudul "Benteng Terakhir yang Tidak Bebas dari Ancaman" terbit 14 Februari 2020, Penulis Lutfy Mairizal Putra
2. Artikel Econusa berjudul "Kalau Banyak Mangi-Mangi, Banyak Kepiting" terbit 04 Februari 2020, Penulis Leo Wahyudi
3. Artike Econusia di Kumparan berjudul "Pasar Mama-Mama Papua, Terobosan Ekonomi Kerakyatan, terbit 23 Desember, Penulis Katharina
4. Wikipedia

Sumber Foto:

1. Instagram Econusa @econusa_id
2. Instagram Hutan Papua @hutanpapua_id
3. Instagram Bueno Nasio @bueno.nasio
4. www.backupbensehat.blogspot.com
5. www.timikaexpress.com
6. https://merahputih.com/post/read/sagu-lempeng-rotinya-masyarakat-papua-yang-tak-tergantikan
7. Dokumen Pribadi

Sumber Vidio:

1. Vidio Lagu " Tatinggal di Papua" Pacenogei, Produksi Alenia Production House https://www.youtube.com/watch?v=WDXLTSb7AoE
2.      About Econusa https://youtu.be/8G9B5hJIAqA


Thursday, February 7, 2019

FREE EBOOK! ModuL PEngembangan Muatan Lokal NOKEN

Amole!

Yg terlintas saat bicara Noken adalah ini...


Atau ini :)


Padahal Noken itu bisa berupa ini...

Instagram @upuya_98
Ya kesemuanya bisa disebut Noken. Nah bagaimana membedakannya?  Ada Free Ebook yang ingin saya bagikan hari ini.


Disclaimer!! Ebook ini bukan saya yang susun ya, tapi Modul Lengkap Noken yang bisa didownload secara gratis. Modul ini disusun oleh Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan 2013. Dalam Modul ini Anda akan mendapatkan informasi sbb:

1. Sejarah Noken, Makna dibaliknya, Fungsi Noken, Noken sebagai Warisan Budaya tak berbenda.
2. Pembuatan Noken. Yg meliputi:
    * Bahan Baku Noken yang terdiri dr 5 jenis yaitu 
       - Kulit kayu
       - Serat pohon
       - Rumput rawa
       - Daun pandan
       - Rotan hutan.
    * Pewarnaan Noken, alami dan buatan.
    * Tehnik Pembuatan Noken yang meliputi Tehnik Anyaman dan Rajutan.
3. Pengembangan Model Kurikulum Muatan Lokal Noken.

Asal tahu saja, dulu modul ini tidak tersedia dalam bentuk digital. Saya ingat saya pinjam bukunya dari perpustakaan. Dan menurut saya isinya sangat berguna mengingat tidak banyak buku yang membahasa secara khusus tentang Aneka Jenis Noken.

Jadi mumpung gratis, Ayo di download ramai ramai supaya smakin banyak orang tahu tentang Noken, juga budaya Papua khususnya.  Silahkan Download di tautan berikut ini (Langsung terdownload).


Jangan lupa subscribe ke Email Newsletter untuk mendapatkan Diskon, Penawaran Khusus dari kami!



Semoga bermanfaat!
Ibu Chandra

Tuesday, November 27, 2018

Produk Update! Noken Asmat dan Serat Kulit Kayu

Amole!

Selamat pagi! ini adalah produk update dari kami, silahkan melihat-lihat ☺


Kode Barang: NB 
Deskripsi: Noken Besar
Ukuran: 25 cm x 31 cm x 3,5 cm
ukuran tali: 120 cm
Harga: Rp. 424.000,00
Berat: 153 gram


Kode Barang: NS
Deskripsi: Noken Sedang
Ukuran: 22 cm x 19 cm x 2,5 cm
ukuran tali: 120 cm
Harga: Rp. 324.000,00
berat: 84 gram


Kode Barang: NSK
Deskripsi: Noken Serat Kayu
Ukuran: 22 cm x 19 cm x 2,5 cm
ukuran tali: 120 cm
Harga: Rp. 324.000
Berat: 27 gram

CATATAN: Pengiriman dari Solo, Jawatengah.

Pemesanan via WA 081.393.00.4879 (Akun Instagram:timikaunique)

Thursday, April 27, 2017

Bahan Baku dan Pewarnaan Noken, Sebuah Perkenalan Bagian 4

Amole! Hallo pecinta Batik dan Kerajinan Khas Papua,

Horeee!!! Akhirnya masuk bagian ke 4 jugaaaa setelah kemaren sempat ada kejadian ketikan hilang gara-gara lupa menyalakan data seluler sehingga data-data yang diketik tidak tersimpan. Dan mengganti data yang hilang kemaren, pagi-pagi saya langsung cus ke perpustakaan daerah, pinjam komputernya (free wifi). Jika ketinggalan postingan sebelumnya berikut saya rangkum ya...

Apa itu Noken? Sebuah Perkenalan Bagian 1
Makna Filosofis Noken? Sebuah Perkenalan Bagian 2
Bahan Baku Noken? Sebuah Perkenalan Bagian 3

Pada postingan terakhir Bagian 3, kita sudah menyinggung Kulit Kayu dan Serat Pohon sebagai Bahan Baku Noken. Nah sekarang kita lanjutkan dengan bahan baku berikutnya yaitu Rumput Rawa, Daun Pandan dan Rotan Hutan.


C.  Rumput Rawa - Sesuai sebutannya, rumput rawa tumbuh di tanah berair, seperti tanah lumpur, tanah basah rawa, dan tanah air lumpur.  Bahasa daerah ada yang menyebut Ikiya.  Rumput ini tumbuh liar dan merupakan bahan baku Noken anyaman.  Umumnya berlokasi di pinggiran sungai, kali, telaga, dan danau, terutama di Wakeitei sekitar Danau Tigi, kali Mugoudide dan Enagotadi disekitar Danau Paniai, serta sepanjang rawa-rawa berair di Merauke, Provinsi Papua; juga beberapa sungai atau kali kecil dan rawa-rawa di daerah suku Tehit, suku Imeko di Sorong Selatan, Papua Barat.
      Rumput rawa yang dipilih adalah yang masih muda karena lentur dan kuat, sedangkan rumput yang tua kaku dan getas.  Pengolahan rumput rawa tidak menggunakan peralatan karena mudah dicabut dan dibelah pakai tangan perajin. Waktu pengupasan bahan baku kulit kayu dilakukan pada siang hari.  tempat pengupasannya, kadang dilakukan dihutan, bekas kebun / ladang tempat bahan baku itu diambil dan kadang pengupasan dilakukan di rumah.  Bahan baku ini sangat mudah diperoleh, namun kini mulai berkurang dan langka karena warga sekitar melakukan pembakaran rumput itu pada musim kemarau, dan memakan waktu cukup lama untuk tumbuh kembali.

Proses pengolahan rumput rawa yaitu;

  1. Pemilihan Rumput Rawa - Rumput rawa yang muda mudah dicabut dengan menggunakan tangan.  jika sulit di cabut berarti rumput sudah tua dan tidak boleh dipotong dengan pisau / parang karena akan merusak pertumbuhan rumput baru.  bahan rumput yang sudah tua tidak digunakan karena kualitas Noken yang dihasilkan tidak tahan lama dan mudah rusak, mudah patah karena keras.
  2. Pembelahan Rumput Rawa - Rumput rawa yang daunnya besar biasanya dibelah terlebih dahulu.  bagian daun rumput yang nampak besar biasanya digunakan sebagai bahan baku anyaman, sedangkan yang kecil dan tipis akan dipintal  untuk dijadikan tali sebagai bahan baku noken rajutan.
  3. Penjemuran rumput rawa- rumput rawa yang sudah di cabut dibawa pulang dan dijemur di halaman menggunakan sinar matahari hingga kering.  Setelah kering rumput rawa dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan noken.

D.  Daun Pandan - Daun pandan banyak tumbuh baik di tanah kering maupun basah.  daun pnadan ada beberapa jenis dan selalu gunakan untuk atap rumah dan koba-koba, ada pula yang digunakan sebagai payung sat hujan, serta dapat dibuat Noken.  Perajin Noken akan memilih dan mengambil daun yang sudah tua karena keras dan kuat, sedangkan daun yang masih muda tidak boleh diambil karena masih lembek dan tidak tahan lama bila dibuat sebagai bahan baku Noken.  kriteria pemilihan daun pandan ini sekaligus menjadi cara orang Papua memelihara kelestarian lingkurangan. Selain sebagai bahan baku noken anyaman, daun pandan juga dimanfaatkan untuk dijadikan dompet, payung, dan atap rumah.  Proses pengolahan daun pandan yaitu;
  1. Pemilihan Daun Pandan.  Daun pandan berbeda dengan rumput rawa, jika rumput rawa harus mengambil daun yang muda , sedangkan daun pandan justru harus diamil yang tua agar lebih kuat dan tahan lama.  daun pandan diambil dengan cara dipotong dengan parang atau gunting besar.  daun pandan di bAwa pulang kerumah untuk diproses.
  2. Pembelahah daun pandan.  Daun pandan dapat dibelah menggunakan pisau tipis mengikuri urat daun dengan ukuran yang sama dengan  menggunakan pisau tipis, ada pula yang sudah menggunakan alat tertentu agar memiliki ukuran yang sama.
  3. Penjemuran daun pandan.  daun pandan yang sudah di belah-belah di jemur menggunakan sinar matahari langsung hingga kering.  setelah kering daun pandan dapat dibuat Noken dengan teknik anyaman.

C. Rotan Hutan - Rotan banyak digunakan sebagai bahan baku anyaman. Diberbagai daerah rotan sudah berkembang dengan berbagai bentuk yang beraneka ragam.  noken anyaman dari bahan baku rotan tidak hanya terbatas pada bentuk tas saja melainkan sudah pada berbagai bentuk sesuai kebutuhan masyarakat Papua sehari-hari.  Dalam hal ini rotan sudah berfungsi lebih luas.  
     Perajin Noken memanfaatkan rotan hutan yang masih muda ataupun yang sudah tua untuk keperluan yang berbeda.  rotan muda digunakan sebagai tali pengikat keranjang yang disebut Aram, sedangkan rotan tua untuk penyangga Noken.  Pemakaian rota hutan sebagai bahan baku Noken ini banya dilakukan masyarakat di Pulau Yapen timur.
     Proses pengolahan rotan hutan, yaitu;
  1. Pemilihan Rotan Hutan.  Rotan diambil dan dipilih dihutan.  Rotan dengan usia muda dan usia tua sama sama memiliki manfaat.  Para pengrajin rotan dapat mengambil rotan sesuai dengan fungsi yang ingin dibuat.  rotan dibersihkan terlebih dahulu dari pelepah yang berduri, setelah itu dipotong menggunakan parang atau kapak dan dikumpulkan untuk dibawa ke rumah.
  2. Perawatan rotan agar terhindar dari jamur.  Rotan yang sudah dibawa ke rumah diolah dengan cara diawetkan agar terhindar dari jamur Blue Stain.  Secara garis besar terdapat dua proses perawatan bahan baku rotan: a.) Pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran sedang / besar dan b.) pengasapan dengan belerang untuk rotan yang berukuran kecil.
  3. Pengeringan Rotan - Rotan yang sudah dilakukan perawatan, dikeringkan dengan sinar matahari. Selanjutnya rotan dapat diolah menjadi belahan yang dapat dianyam.
Nah tuntas sudah kita membahas Bahan Baku ya, sekarang kita lanjutkan ke Proses Pewarnaan Bahan Baku Noken.

PROSES PEWARNAAN BAHAN BAKU

Proses pewarnaan bahan baku Noken dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pada saat pemintalan maupun pada saat bahan baku diolah.  Pewarnaan yang digunakan adalah pewarna alam dan buatan.  Prinsipnya memberi warna pada produk Noken dilakukan sebelum Noken selesai terbentuk.  Secara tradisional mewarnai benang pintalan dengan pewaran alam menggunakan tangan sering dilakukan oleh Mama-Mama Noken, hai ini dilakukan agar lebih mudah.  Warna warna yang digunakan disesuaikan dengan selera atau kesukaan Mama- Mama pembuat Noken.  Mereka tidak memiliki desain tersendiri untuk menentukan warna pada Noken.  Oleh sebab itu Mama Mama Noken kesulitan membuat Motif pada Noken rajut jika menggunakan cara tradisional seperti ini.  Maka motif yang didapat pada Noken rajut cenderung garis garis yang dibedakan dengan warna saja tidak ada yang lain.

"Warna yang digunakan merupakan warna yang disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Papua. Yang paling dominan adalah warna merah, putih, hitam, kuning, dan coklat.  Warna-warna ini sangat akrab dengan alam dan kehidupan masyarakat Papua dan Papua Barat.  Masing-masing suku diPapua dan Papua barat memiliki ciri khas terhadap pewarnaan pada Noken"

Proses pewarnaan menggunakan bahan pewarna alam atau buatan dilakukan dengan dua cara;
Cara pertama:
  • Bahan baku yang siap digunakan untuk rajutan Noken dan anyaman dicelup / direndam dalam larutan pewarna alam yang sudah disiapkan.  Biarkan hingga semalam agar warna menyerap sempurna.
  • bahan baku tersebut diangkat dan ditiriskan hingga kering.  Setelah kering dapat dilakukan pembuatan Noken
Cara Kedua:
  • Bahan baku yang sudah siap dipintal dan dianyam dapat dibuat Noken.  Pada saat bagian-bagian tertentu akan diberi warna, maka pengrajin Noken mengoleskan warna yang diinginkan pada bahan baku pintal atau anyam, setelah itu baru dilanjutkan merajut atau menganyam kembali, begitu seterusnya hingga warna yang diingkan sudah semua dapat diberikan pada Noken.
  • Proses pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan saja, biasanya pewarna dengan cara oles ini akan cepat kering saat pembuatan Noken.  Namun teknik warna seperti ini kadang tidak kuat dan mudah luntur.
"Diperlukan sebuah penelitian dari Komunitas Noken untuk mengembangkan pewarnaan baik alam dan buatan yang dapat mempertahankan kualitas dari Noken itu sendiri agar tampak kuat, tahan lama dan warna tidak mudah luntur"

A. PEWARNA ALAM - Bahan pewarna alam berasal dari alam berupa buah, daun, tanah dan akar.  Pewarna alam dan pengolahannya yang biasa digunakan oleh pengrajin terdiri dari:
  1. Warna Merah - Warna merah dihasilkan dari pohon dihutan yang memiliki biji merah, beberapa suku menyebutnya dengan nama Yonggo Ibu.  Biji merah Yonggo Ibu diolah dengan cara ditumbuk hingga keluar air berwarna merah, lalu diberi penetap warna air arang dan getah pohonnya agar warna merah tidak berubah warna.
  2. Warna Putih - Warna putih dihasilkan dari kerang biya berasal dari laut.  Kerang biya juga diolah dengan cara ditumbuk dan bubuk putih yang dihasilkan juga diberi air getah pohon agar warna putih tahan lama.
  3. Warna Hitam - Warna Hitam diambil dari warna arang.  Arang yang digunakan dari pohon pinus atau yonkori.  Cara pengolahannya juga ditumbuk dan bubuk hitamnya dapat langsung dipakai untuk mewarnai
  4. Warna Coklat - Warna coklat diambil dari tanah.  Tanah yang berwarna coklat direndam dalam air, endapannya yang halus di campur degnan air getah pohon dan dapat digunakan untuk mewarnai
  5. Warna Kuning - Warna kuning didapatkan dari kunyit.  Kunyit diolah dengan cara ditumbuk dan sari pati kunyit yang masih kental dan berwarna kuning diberi air getah pohon agar tidak mudah luntur.
  6. Warna Hijau - Warna Hijau diperoleh dari Daun Nerica.  Daun nerica di olah dengan cara ditumbuk, dair daunnya yang berwarna hijau dapat diberi air getah agar tahan lama.\
  7. Warna ungu - Warna ungu biasa dipakai Mama-Mama Noken dari bunga ungu.
B. PEWARNA BUATAN - Bahan pewarna buatan yang biasa digunakan oleh pengrajin Noken biasanya mengambil dari warna yang dibuat oleh pabrik.  ada beberapa pengrajin yang memanfaatkan pewarna tinta stempel atau spidol untuk memberi warna pada Noken.  Ada pula yang telah menggunakan wantex atau pewarna tekstil untuk merendam bahan baku Noken.  Tentunya Noken yang menggunakan warna buatan lebih tahan lama dan tidak mudah luntur dibanding dengan warna alam.  Seperti pada benang pintal yang sekarang sudah dilakukan untuk membuat Noken dari bahan sintetis.

Sumber: Modul Pengembangan Muatan Lokal Noken
Diterbitkan oleh: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Wednesday, April 26, 2017

Bahan Baku Noken, Sebuah Perkenalan Bagian 3

Amole! Hallo Pecinta Batik dan Kerajinan Khas Papua,

Terima kasih karena masih mengikuti postingan saya tentang Noken.  Jika ketinggalan, Anda bisa membaca Artikel sebelumnya yaitu Apa itu Noken? Sebuah perkenalan Bagian 1 dan Makna Filosofis Noken? Sebuah Perkenalan Bagian 2.   Dan kita masuk ke bagian terakhir yaitu Pembuatan Noken. Sambil menahan dingin ruangan AC diperpustakaan Daerah Mimika. Saya berharap artikel yang disajikan bisa menambah wawasan Anda tentang Noken. Seperti yang tertulis pada buku Modul yang saya pakai sebagai sumber informasi, Noken mengalami penurunan dalam jumlah dan tingkat popularitas di kalangan Anak Muda. Dan itu sangat disayangkan karena Noken menurut saya karya yang unik, yang lahir dari kebudayaan Papua.

Noken umumnya dibuat oleh Mama-Mama Papua. Istilah yang digunakan adalah "Mama-Mama Noken". Sedangkan Laki-laki yang membuat Noken disebut "Bapak Noken Anggrek". Bapak Noken Anggrek berasal dari Suku Mee. Jumlah para perajin Noken ini tidaklah banyak dan umumnya tidak bisa membaca dan menulis. Namun begitu mereka terampil membuat kerajinan tangan Noken. Adapula yang sudah berusia lanjut, sementara tidak banyak generasi penerus yang mampu menghasilkan Noken seperti yang dibuat Mama Mama Noken.

PEMILIHAN BAHAN BAKU NOKEN

Pemilihan Bahan Baku disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan rakyat Papua setempat, serta dipertimbangkan sumber daya alam yang tersedia serta letak Geografisnya. Beberapa Contoh Bahan Baku Noken adalah:
  • Pohon Ganemon / Melinjo
  • Pohon Mahkota Dewa
  • Pohon Beringin
  • Pohon Yonkori
  • Rumput Rawa 
  • Pohon Pandan
  • Pohon Rotan
  • Pohon Anggrek

Jenis dan Pengolahan Bahan Baku - Pohon-pohon di atas yang akan diambil manfaatnya adalah

A.  Kulit Kayu
           Kulit kayu merupakan bahan baku Noken yang paling populer. Kulit kayu memiliki serat yang disebut Serat Kayu. Serat ini diambil dengan cara memisahkan kulit dari batang pohonnya. Peralatan yang digunakan hanya tangan dan alat bantu sederhana. Berikut prosesnya:
  1. Pemilihan Batang Pohon. Pohon yang dipilih adalah pohon yang berusia muda sekitar 1-3 tahun, supaya tidak sulit untuk melepaskan kulit dari batang pohonnya dan melepaskan serat dari kulit batangnya. Pohon yang sudah besar dan tua jarang dipakai tetapi kalau bahan puma bebu (serat puma), damiyo bebi (serat damiyo) bisa dipakai karena meskipun besar masih tergolong muda sehingga tidak lengket saat pengupasan kulit.
  2. Tebang Pohon.  Penebangan pohon dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dengan parang dan kapak dan tidak menggunakan mesin.  Jarak antar pohon mesti diperhatikan supaya hutan tidak nampak gundul dan memberi kesempatanan tunas muda.  Pertimbangan lain dalam menebang lainnya adalah setelah menebang satu pohon, saat itu juga di tanam tanaman pengganti di lokasi yang sama.
  3. Bersihkan ranting, daun dan potong bagian pucuk pohon.  Serat yang baik terdapat pada batang tengah, sehingga ranting, daun, dan pucuk pohon tidak diperlukan dan harus disingkirkan supaya mudah mengulitinya.  Kemudian, batang pohon ini di belah menjadi beberapa bagian.
  4. Kulit kayu dipisahkan dari batang Pohon.  Batang pohon yang sudah dibelah dikuliti dengan menggunakan pisau. Batang pohon dibersihkan dari kotoran yang melekat.  Pisahkan kulit kayu dari ujung batang dengan menggunakan tangan. Batang pohon yang tidak terpakai dapat dijadikan kayu bakar.

B. Serat Pohon - Serat Pohon merupakan sel atau jaringan serupa benang atau pita panjang yang terdapat pada kulit kayu.  Biasanya diambil dari batang pohon yang masih muda sehingga kulitnya mudah dikupas dan dibeset seratnya dengan tangan ataupun dengan peralatan sederhana seperti pisau.  Serat pohon merupakan bahan baku Noken dengan teknik pintal. Bahan baku serat dihasilkan dengan dua cara yaitu batang pohon dan dari kulit kayu. Proses pengolahan bahan baku dari serat pohon adalah
  1. Pemilihan Batang Pohon.  Batang pohon yang dipilih memiliki serat kayu seperti pohon ganemon, mahkota dewa, beringin dan sebagainya. Usia pohon muda sekitar 6 bulan hingga 2 tahun, sedangkan pohon tua sekitar 2-10 tahun.
  2. Pemukulan Batang Pohon.  Batang pohon dipukul-pukul terlebih dahulu untuk memudahkan pemisahan kulitnya.  Setelah itu batang pohon akan terpisah antara kulit luar dengan isinya. Disini akan dipilah antara mana yang digunakan untuk Noken.
  3. Perendaman Kulit kayu dan Serat Pohon.  Kulit kayu yang ada serat pohon dipisahkan dari batang pohon.  Untuk memudahkan pengambilan serat, dilakukan perendaman di air.  Jika serat masih keras membutuhkan waktu seharian dan jika lunak hanya membutuhkan waktu perendaman hingga 3-4 jam.
  4. Pengeringan serat Pohon.  Serat pohon yang sudah dapat dipisahkan dari batang phon lalu dijemur agar kering.  Pengeringan dilakukan dengan dua cara yaitu; diatas tungku api rumah dan panas sinar matahari. Tapi pengrajin banyak menggunakan tungku api rumah agar mudah dipisahkan serat pohonnya.  Serat pohon yang sudah kering dapat diurai agar menjadi benang.
Sebetulnya sudah mengetik banyak tapi mati lampu tiba-tiba dan banyak data yang hilang. Duh maafkan ya. Untuk sementara ini dulu besok kita sambung lagi dengan Bahan Baku yang lainnya...

Sumber: Modul Pengembangan Muatan Lokal Noken Papua. Diterbitkan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Timikaunique di bukalapak.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...