Showing posts with label culinary Papua. Show all posts
Showing posts with label culinary Papua. Show all posts

Sunday, August 5, 2018

Mengenal Pohon Sagu atau dalam Bahasa Papua Rumbia

Amole! Hallo pecinta Batik dan Kerajinan Khas Papua,

Ayo kita berkenalan dengan pangan lokal yang banyak ditemuui di Papua yaitu Saguuuu! Sagu di ambil dari batang Pohon Sagu. Tulisan ini akan saya buat berseri dan ini adalah yang bagian pertama.

Definisi Pohon Sagu atau Rumbia

Penampakan Pohon Sagu (Sumber Gambar: Wikipedia)
Yap Sagu yang konon berasal dari Papua kini menyebar ke luar daerah. Daerah Papua yang berawa-rawa sangat cocok untuk budidaya Sagu...ups mungkin lebih cocok kalau disebut tumbuh subur ya karena tanpa budidayapun Tanaman Sagu bisa tumbuh dengan baik. Seperti apa sosok pohon Sagu? 

Dikutip dari Wikipedia disebutkan Pohon Sagu atau disebut juga Rumbia Rumbia atau disebut juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepungsagu
Pohon palma yang merumpun, dengan akar rimpang yang panjang dan bercabang-cabang; tinggi tajuk 10 m atau lebih dan diameter batang mencapai 60 cm. Daun-daun besar, majemuk menyirip, panjang hingga 7 m, dengan panjang anak daun 1.5 m; bertangkai panjang dan berpelepah.
Sebagaimana gebang, rumbia berbunga dan berbuah sekali (monocarpic) dan sudah itu mati. Karangan bunga bentuk tongkol, panjang hingga 5 m. Berumah satu (monoesis), bunga rumbia berbau kurang enak.

Rumbia menyukai tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya, di lingkungan hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian sekitar 700 m dpl.  Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas.
Diperkirakan berasal dari Maluku dan Papua, sejak lama rumbia telah menyebar ke seluruh kepulauan Nusantara, yakni pulau-pulau Sunda BesarSumatraSemenanjung Malaya, dan tak terkecuali di Filipina, kemungkinan karena dibawa oleh peradaban manusia. Kini rumbia telah meliar kembali di banyak tempat

Pemanfaatan Daun Sagu sebagai Akesoris Baju Adat Papua

Daun Sagu dimanfaatkan sebagai bahan pembuat rok rumbia 
Yap betul, Rok Rumbia atau dikenal juga dengan Rumbai juga dibuat dari daun Sagu lho. Daun Sagu dikeringkan, diasap lalu di rangkai menjadi rok rumbai. Unik bukan? Berdasarkan pengalaman saya, rok rumbai ini cukup awet dijadikan kostum Adat Papua!

Sumber (Wikipedia)

Thursday, December 3, 2009

Tersesat dalam pencarian Papeda

Saya pernah dengar Papeda, tapi belum pernah mencobanya.  Ingin sich tapi belum ada waktu untuk pergi ke resto yang jualan Papeda.  Hingga suatu pagi yang cerah saya membaca update status FB teman saya yang lagi hamil muda nyidam Papeda.  Penasaran dengan yang namanya Papeda, saya nekat ke Pasar Tradisional dengan menggendong anak saya. Hahaha.  Maklum lah ga ada pembantu.

Saya tersesat di pasar swadaya Timika, dan kecapekan setelah keliling pasar (shopping list saya waktu itu ga cuma cari Papeda).  Saya bingung antara mau jalan terus atau tidak karena sepertinya saya mengambil jalan yang salah.  Namun mungkin karena sudah nasib, akhirnya sampai juga di lapak yang jualan Papeda.  Lapak papeda satu area dengan lapak jualan ikan laut.  At first sight, saya pikir ibu ini jualan batu cadas ya karena papeda yang ada di kepala saya ya mirip-mirip dengan tepung sagu pada umumnya.  Namun begitu saya tanya ibu yang jualan, ternyata 'batu cadas' yang saya maksud memang Papeda.  Papeda yang diatas meja ibu itu adalah Papeda yang di jual dalam bentuk bongkahan. O la la.  Saya sempat wawancara dengan ibu itu  sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli yang dalam bentuk tepung (lebih ringan).  Saya bercerita kalau teman saya di Jawa, minta tolong di kirimkan papeda karena nyidam.  Kemudian ibu itu menjawab" O iya..kalau nyidam harus di penuhi, karena kalau tidak nanti bayinya ngeces (air liurnya) keluar terus" dan katanya lagi "harus beli 2 bungkus ibuk kalau untuk ibuk hamil muda, kalau tidak bayinya nanti protes".  Wah saya pikir "smart marketing" he..he..he..Ibu itu sempat memeragakan cara buatnya dan bagaimana penyimpanannya supaya awet.  "Kalau tidak biasa makan, terasa aneh, tapi kalau sudah sekali makan setelah itu pasti ketagihan" Kata ibu itu sebelum saya akhirnya menyerahkan uang tanda saya jadi membelinya.

Mungkin suatu hari nanti, saya akan mencoba mencicipinya dan let see apa betul Papeda bikin saya ketagihan?


(for Raysitta and Cynthia, thank you for asking me Papeda, because you guys, I got this story)

Timikaunique di bukalapak.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...