Showing posts with label Baju Adat Papua. Show all posts
Showing posts with label Baju Adat Papua. Show all posts

Wednesday, August 7, 2024

Menyingkap Proses Pembuatan Rok Rumbai Papua: Kain Rumput yang Sarat Akan Makna Budaya

Amole! Hallo sahabat Timikaunique yang saya cintai,


Rumbai Buatan Kabupaten Wamena, Papua

Rumbai Buatan Suku Asmat, Papua

Rumbai Buatan Timika, Papua


Apa kabar? Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Terakhir saya menulis bulan Agustus 2020, artinya empat tahun yang lalu. Wow...itu saat pandemi ya. Kali ini saya ingin membahas tentang Rumbai Papua terutama bagaimana proses pembuatannya.

Papua, salah satu wilayah di Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi, memiliki beragam pakaian adat yang unik dan penuh makna. Salah satu yang paling terkenal adalah rok rumbai, atau sering disebut kain rumput. Artikel ini akan membahas secara mendalam proses pembuatan rok rumbai Papua, dari bahan mentah hingga menjadi pakaian adat yang indah dan sarat akan makna budaya.

Sejarah dan Makna Budaya: Rok rumbai Papua memiliki sejarah panjang dan penting dalam kehidupan masyarakat adat Papua. Kain rumput ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga sebagai simbol identitas, status sosial, dan kepercayaan adat. Penggunaan rok rumbai dalam upacara adat menandakan penghormatan terhadap leluhur dan alam.

Rok Rumbai digunakan dalam upacara tradisional Masyarakat Papua (Sumber: Kompas.com)

Bahan-Bahan yang Digunakan: Proses pembuatan rok rumbai dimulai dengan pengumpulan bahan-bahan alami. Bahan utama yang digunakan adalah serat dari tanaman alami seperti pandan, sagu, atau daun lontar. Bahan-bahan ini dipilih karena kekuatan dan fleksibilitasnya, serta ketersediaannya di alam Papua.

Proses Pengolahan Bahan:

  1. Pengumpulan dan Pengeringan: Serat-serat alami dikumpulkan dan dikeringkan di bawah sinar matahari untuk menghilangkan kelembapan. Proses pengeringan ini juga membantu memperkuat serat.
  2. Pemotongan dan Penghalusan: Setelah kering, serat-serat ini dipotong sesuai ukuran yang diinginkan dan dihaluskan agar lebih mudah untuk dianyam.
  3. Pewarnaan Alami: Sebelum dianyam, serat-serat ini bisa diwarnai menggunakan pewarna alami dari tumbuhan atau tanah liat. Pewarnaan ini memberikan warna khas yang sering terlihat pada rok rumbai.

Teknik Anyaman Tradisional: Proses anyaman adalah inti dari pembuatan rok rumbai. Pengrajin menggunakan teknik anyaman tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Teknik ini memerlukan keterampilan tinggi dan ketelitian untuk menghasilkan pola dan tekstur yang diinginkan. Setiap motif yang dihasilkan memiliki makna dan cerita tersendiri.

Penggabungan dan Penyelesaian: Setelah serat dianyam, langkah berikutnya adalah menggabungkan beberapa bagian anyaman menjadi satu kesatuan rok rumbai. Proses ini melibatkan penjahitan manual dengan menggunakan benang alami atau serat tambahan untuk memastikan kekuatan dan ketahanan rok.

Penggunaan dan Perawatan: Rok rumbai Papua digunakan dalam berbagai upacara adat, tari-tarian tradisional, dan kegiatan sehari-hari. Untuk menjaga keawetan rok rumbai, perawatan khusus diperlukan, seperti penyimpanan di tempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari langsung, serta pembersihan dengan cara tradisional yang tidak merusak serat alami.

Proses pembuatan rok rumbai Papua adalah cerminan dari kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Papua. Setiap langkah dalam proses ini menunjukkan rasa hormat terhadap alam dan leluhur. Dengan memahami dan menghargai proses ini, kita dapat lebih mengapresiasi keindahan dan makna dari rok rumbai Papua.

Untuk lebih jelaskan kami lampirkan vidio pembuatan Rok Rumbai dari Youtube berikut ini:

Sumber: https://youtu.be/SE_5JIVOq70?si=9FH_VurpfHM5r_CB

https://www.youtube.com/watch?v=Xws60dJcxXg

Sumber: https://youtu.be/wURS-HNittw?si=_3bGR5YTDk97nBrj

Melestarikan warisan budaya seperti rok rumbai Papua adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui artikel ini, diharapkan lebih banyak orang dapat mengenal dan menghargai keunikan serta keindahan budaya Papua. Mari kita jaga dan lestarikan warisan budaya kita untuk generasi mendatang.

Jika Anda memerlukan Rok Rumbai / Kain Rumput bisa kunjungi Shopee Timikauniqe ya atau kirim WA ke No. 081.393.00.4879.

Sampai jumlah ditulisan berikutnya,

Ibu Chandra Malini











Friday, January 24, 2020

Mengenal Burung Kasuari, Burung Endemik Papua

Sumber Gambar: Simon Bardet dari Pixabay
Amole! Hallo Pembaca!


Postingan kali ini ingin mengajak pembaca mengenal Burung Kasuari asli Papua. Sebetulnya ada misi dibalik tulisan ini sih..sebetulnya saya ingin pembeli tahu kalau Topi Adat Papua yang saya jual dibuat dari bulu Burung Kasuari asli.

Awal berjualan dulu saya belum sadar akan tindakan saya ini, saya pikir kalau dijual bebas berarti legal / diperbolehkan. Selama berjualan topi adat Papua juga lancar-lancar saja, tidak ada pelarangan ketika kita mengirim melalui kurir. Jadi menurut saya ini ada yang janggal. 

Tentu saja perubahan tidak terjadi dalam satu malam, kerumitan terjadi manakala saya sudah terlanjur menjualnya dalam satu paket dan termasuk barang yang best seller di toko online saya :(.

Kesadaran Untuk Peduli Terhadap Burung Kasuari dan kaitannya dengan pelestarian Hutan

Burung Kasuari sendiri jumlahnya smakin menurun di Alam karena penangkapan. Oleh karena itu saya sedang membuat Alternatif Paket Baju Adat Papua yang tidak menggunakan bahan-bahan dari bulu kasuari.

Selain Ramah hewan (animal friendly), Paket Baju Adat ini juga lebih murah dibandingkan Paket Baju Adat dengan Rumbai Asli Papua. Rumbai Papua Asli sendiri juga dibuat dari bahan Alami yaitu daun sagu yang diambil dari hutan. 







Baju Adat Yospan Papua yang lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bulu kasuari

Jika teman teman ingin membeli paket baju adat Papua yang lebih ramah lingkungan bisa membeli paket baju adat Yospan yang saya jual Klik disini. Paket baju adat ini dibuat dari bahan kain, topi adat dari bulu ayam dan kelinci.

Mengenal Burung Kasuari


Sumber foto: Anja Schroder dari Pixabay
Ada tulisan menarik tentang Kasuari yang bertebaran di internet dan salah satunya adalah tulisan yang berjudul " Kasuari, Burung Bongsor dari Papua" yang ditulis oleh Sarah Megumi dari Greener.com.

Ditulisannya diceritakan burung kasuari tidak bisa terbang karena sayapnya kecil dan tidak sempurna. Karena tidak bisa terbang ini pulalah burung kasuari diburu oleh manusia untuk diambil dagingnya, bulunya, kukunya, bahkan telurnya..duh kasihan ya pembaca.

Sumber Gambar: Pixabay
Burung kasuari juga merupakan pemakan biji-bijian, mulai dari matoa, kenari, pala, biji rotan dan banyak jenis biji bijian lainnya. Burung Kasuari juga membantu pertumbuhan tanaman dengan cara menyebarkan biji biji tanaman melalui feses / kotorannya.

Tulisan menarik lainnya saya temukan adalah tulisan yang berjudul 10 Fakta Menakjubkan dari Keindahan Burung Kasuari, Mirip Dinosaurus oleh Ina Sinaga yang diterbitkan di situs IDN . Si penulis menceritakan kaki burung kasuari besar mirip kaki dinosaurus. Kaki yang besar ini merupakan senjata burung Kasuari jika tidak suka terhadap sesuatu.

Burung Kasuari dikenal sebagai burung terbesar di dunia dan kukunya yang tajam bahkan bisa membunuh manusia dan itu nyata terjadi. Ketika kita memegang topi adat Papua kita sesungguhnya tidak benar benar tahu bagaimana resiko yang dihadapi oleh para pengumpul bulu burung kasuari.

Untuk membaca artikel lengkap bisa baca disini https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/ina-suraga/fakta-menakjubkan-burung-kasuari-c1c2

Status Perlindungan

Semua jenis kasuari telah masuk dalam daftar jenis yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Dengan status tersebut maka setiap orang yang tidak boleh berburu, menyimpan, memiliki, mengangkut burung kasuari dan atau bagian-bagiannya (sumber: http://dhony-syach.blogspot.com/2010/12/burung-kasuari-maskot-papua-barat.html?m=1).


Burung kasuari bisa hidup hingga 50 tahun. Meskipun dapat bertahan hidup lama, burung ini mengalami penurunan populasi. Selain faktor perburuan secara masif, adapun adanya konversi lahan dapat merusak habitat alami burung besar ini. 

Hutan yang merupakan habitat kasuari berubah menjadi permukiman maupun perkebunan kelapa sawit. Konversi lahan dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit tentunya tidak hanya merugikan burung endemik ini saja, melainkan satwa-satwa lain yang dominan hidupnya di hutan Papua juga dapat terkena imbasnya (sumber: Instagran Hutan Papua).

Kesimpulan

Penggunaan aksesoris baju adat Papua dari bulu Kasuari sebaiknya dihindari karena melanggar Undang Undang di Indonesia, selain itu juga mengakibatkan jumlah burung kasuari semakin menurun.

Untuk itu saya berkomitmen untuk TIDAK LAGI menjual topi adat Papua dari bulu Kasuari. Untuk itu saya minta maaf kepada customer saya, ini memang keputusan yang tidak mudah, saya sendiri masih perlu meyakinkan pada diri sendiri berkali-kali.

Jika ada pembaca ada yang memberi ide alternatif topi adat Papua yang lebih ramah lingkungan, silahkan hubungi saya. Lalu jangan lupa share tulisan saya supaya semakin banyak orang tahu. Selain burung kasuari, burung Cenderawasih juga merupakan satwa yang sering digunakan sebagai topi adat Papua. Banyak pejabat yang datang kePapua dengan bangganya memakainya tanpa mengetahui sedikitpun apa dampaknya.

Ibu Chandra
HP/WA 081.393.00.4879


Saturday, January 26, 2019

Proses Pembuatan Rok Rumbai Papua atau Tauri dan Tips Merawatnya

Amole! Hallo...

Jadi beberapa hari lalu anak saya pergi ke perpustakaan dan meminjam buku yang berjudul "Si Bolang Pedia, Bocah Petualang Seri Bertahan Hidup" karya Johanna Ernawati yang diterbitkan oleh Seri Buku Trans7.



Dalam buku tersebut membahas tentang Rok Rumbai Papua yang ternyata dikenal juga dengan nama Rok Tauri / Awer. Rok rumbai Papua juga merupakan bagian dari Baju Adat Papua yang saya jual.

Nah saya akan ceritakan kembali melalui postingan ini ya sekaligus nanti saya akan berbagi cara merawat Rok Rumbai supaya awet.

Orang Asmat tinggal di Pulau Papua. Disana Banyak sekali pohon sagu. Orang Papua menjuluki pohon sagu sebagai pohon nasi akar. Saya pernah menulis tentang Mengenal Pohon Sagu atau Rumbia

Untuk melindungi tubuh, orang Asmat membuat pakaian berupa rok dan cawat dari pucuk sagu. Namanya Tauri atau awer.

Pucuk sagu itu daun sagu muda yang masih kuncup. Pucuk ini bisa dijadikan tauri karena tipis dan mudah diolah.  Beda dengan daun sagu tua yang keras.

Sulitnya, pucuk sagu selalu berada dipuncak pohon sagu yang sangat tinggi.  wah, orang asmat harus memanjat pohon sagu sampai puncak.  Padahal batang pohon sagu itu berduri.  Jika tidak hati-hati, duri sagu bisa melukai kulit mereka.



Membuat Tauri
  1. Kupas pucuk sagu sampai tipis
  2. Jemur kupasan sampai kering, lentur dan berwarna cokelat
  3. Rangkai kupasan sagu sampai menjadi rok dan cawat.
Proses ini membutuhkan waktu sekitar satu bulan!

Tips Merawat Rok Rumbai / Tauri sangat sederhana yaitu hindari tempat yang lembab / berair.  Jika musim hujan datang karena kita tinggal didaerah tropis, jemur saat cuaca cerah.  Selama tidak terkena air, Rok Tauri bisa dipakai dalam waktu 5 tahun lho!

Ingin Diskon Produk Rok Rumbai Khas Papua? Dapatkan Diskon 20% untuk pembelian pertama Rok Rumbai Papua. Caranya mudah dengan memasukkan Form yang tersedia dibawah ini.

FREE ONGKIR RP. 20.000,00 MAU?


Salam,
Ibu Chandra

Timikaunique di bukalapak.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...